Bahasa Mata Seperti Bahasa Lisan

Berkaitan dengan hal ini, kisah Ka’ab bin Malik bisa menjadi bukti yang nyata bagi kita. Ia mengisahkan, “Kaum muslimin telah mengabaikanku selama lima puluh hari. Hingga aku merasa dunia ini sangat sempit bagiku dan bagi dua sahabatku lainnya. Ini disebabkan karena kami tidak ikut serta dalam perang Tabuk. Aku adalah orang yang paling keras dan muda di antara mereka. Suatu hari aku keluar hendak melaksanakan shalat jamaah bersama kaum muslimin. Aku melewati pasar, dan tidak ada satupun di antara kaum muslimin yang menyapaku. Kemudian aku mendatangi Rasulullah SAW yang sedang berada dalam majelisnya. Aku ucapkan salam padanya. Dalam hati, aku bertanya-tanya apakah Rasulullah akan menggerakkan kedua bibirnya untuk menjawab salamku atau tidak? Kemudian aku duduk di samping beliau. Jika aku berpaling, beliau menatapku. Dan jika aku melihat beliau, maka beliau berpaling dariku.”

Sebenarnya, ketika kita kehilangan ‘pandangan’ yang menyejukkan dari orang lain, pada hakikatnya kita telah kehilangan kehidupan dan cahaya mata yang sangat kita butuhkan. Seorang manusia bisa menumpahkan perasaannya melalui pandangan kedua matanya tentang apa saja yang ia simpan di dalam hatinya. Seseorang juga akan mampu menyingkap apa yang disembunyikan dalam pikiran dan hati orang lain hanya dengan merenungi apa makna di balik pandangan orang itu.

Rasulullah SAW sendiri terkadang memandang sesuatu dengan mimik wajah marah, tanpa bicara. Ekspresi mata seseorang dalam berinteraksi lebih efektif daripada ucapan lisan.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s